Pada tanggal
12 Maret 2026, sebuah sejarah baru tercatat di pesisir Morotai Selatan Barat
dengan terbentuknya Sekolah Perempuan Ngopedeka Parimoi. Nama
"Ngopedeka Parimoi" bukan sekadar label identitas, ia membawa makna
filosofis "Perempuan Bersatu". Dalam konteks masyarakat
Tutuhu yang selama ini terfragmentasi oleh beban domestik dan kerasnya kerja
fisik, nama ini adalah sebuah manifesto. Ia menandai peralihan dari perjuangan
individu yang sunyi di dapur dan kebun, menuju perjuangan kolektif yang
terorganisir. Pembentukan sekolah perempuan ini adalah pernyataan bahwa
perempuan Tutuhu menolak untuk terus berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi
sistem yang meminggirkan mereka.
Lahirnya Sekolah Perempuan Ngopedeka Parimoi merupakan hasil dari kesadaran mendalam perempuan akar rumput yang merasakan urgensi adanya ruang aman untuk belajar. Di tengah kepungan tantangan geografis dan sosial, sekolah perempuan ini menjadi wadah dimana perbedaan latar belakang mulai dari mereka yang belum mengenal huruf hingga mereka yang memiliki gelar sarjana luruh menjadi satu visi. Makna "Perempuan Bersatu" menjadi pengingat harian bahwa kekuatan mereka terletak pada solidaritas, terutama ketika mereka harus berhadapan dengan tembok tebal patriarki dan keterbatasan akses yang selama ini mengurung potensi mereka di ujung terjauh kabupaten.